Thursday, February 19, 2009

Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Konservasi

Pemanasan global telah menyebabkan perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya tekanan lingkungan dalam bentuk iregularitas ketersediaan air karena kekeringan dan banjir; degradasi lahan oleh erosi dan pengikisan bahan organik dan mineral tanah; perubahan praktik-praktik pertanian seperti perubahan pola tanam, ancaman terhadap kesinambungan produktivitas tanaman, baik itu yang menyangkut kuantitas maupun kualitas, serta perubahan dalam diversifikasi tanaman. Hal ini diramalkan akan mengancam kelangsungan produksi pangan di dunia maupun di Indonesia dalam jangka panjang.

Para ahli telah mengajukan kerangka mitigasi terhadap emisi GRK. Untuk sektor pertanian, International Panel on Climate Change (IPCC) telah merekomendasikan beberapa langkah penting dengan menggunakan teknologi maupun praktek yang saat ini tersedia. Langkah-langkah itu antara lain: memperbaiki manajemen lahan pertanian dan ladang penggembalaan untuk meningkatkan penyimpanan karbon di tanah; restorasi lahan gambut dan lahan yang telah rusak.

Memperbaiki teknik-teknik budidaya tanaman padi, manajemen di bidang peternakan dan pemupukan untuk mereduksi emisi gas metan; serta memperbaiki teknik aplikasi pupuk nitrogen untuk mengurangi emisi gas nitrat. Menggunakan energi berbasis tanaman untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil (tambang); memperbaiki efisiensi energi.

Teknologi praktik-praktik seperti itu terangkum dalam konsep Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture), yang pada tingkat implementasinya terjelma dalam praktik pertanian konservasi (Consevation Agriculture)

Pertanian konservasi yang memperkenalkan olah tanah konsevasi, dalam bentuk olah tanah minimum, tanpa olah tanah dan pemanfaatan mulsa. Hal ini ternyata telah diterapkan pada kurang lebih 100 juta hektar lahan pertanian di dunia, terutama di Amerika Selatan, Amerika Utara serta beberapa negara Afrika. Namun laju adopsi olah tanah konservasi akan menggantikan teknik olah tanah konvensional yaitu olah tanah sempurna. Olah tanah sempurna yang biasanya dilakukan secara mekanis dengan cangkul ataupun traktor, cenderung merusak struktur tanah, sebagai sumber emisi gas karbon atau pun gas metan.

sumber: www.sinarharapan.co.id

No comments: