Friday, February 27, 2009

Tahu Bahaya Pupuk Kimia, Tetap Nekad

KUDUS- Pupuk anorganik ternyata sudah dipahami petani bisa menyebabkan rusaknya kesuburan tanah. Namun, karena hasilnya lebih besar banyak para petani yang tetap memakainya. Mereka lebih memilih hasil dalam jangka pendek dari pada kelestarian tanah dalam jangka panjang.

"Namanya orang buruh, Mas, Jadi yang penting panenya bisa banyak, kalau organik memang baik untuk tanah, tapi hasilnya sedikit," jelas Latif petani asal desa Undaan Tengah Gang 11, yang mengerjakan sawah milik orang, kemarin (14/12).

Dia mengaku hampir setiap tahun menggunakan pupuk kimia tersebut. Selain karena sudah menjadi turun temurun. Dia juga mengaku sebagai penggarap sawah hanya keuntungan yang jadi prioritasnya. Pasalnya dia mengaku harus membagi hasil panennya dengan pemilik tanah.

Kesuburan tanah dengan pupuk kimia menurutnya, tidak akan bertahan lamah. Bahkan sekarang dia menjelaskan harus menambah pupuk kimianya karena tanah sudah mulai kehilangan unsur haranya. "Untuk memacu pertumbuhan ita terpakasa selalu menambah jumlah pupuknya," tambahnya.

Bahkan, latif mengaku pernah merasakan padi yang berasal dari sawah dengan pupyk organik. Untuk hasilnya dia menungkapan lebih bagus. Selain itu dia membandingkan setelah dimasak nasi dari padi itu tidak lengket dan bau meski dua atau tiga hari berada di pemanas nasi.

Sementara itu, Sukardi petani asal desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati. Alasannya menggunakan pupuk kimia karena hasil penennya lebih banyak dan sawahnya akan terlihat hijau.

Dia juga menjelaskan jika, sawahnya sudah tidak subur seperti tahun lalu. Perbedaan hasilnya memang tidak terlalu banyak. Selanjutnya, bahkan dia juga memperkirkan kondisi ini akan berlangsung terus.

"Sebelum saya tanam padi, di sini saya tanami pohon jagung, dan hasilnya sedikit menurun, kemudian saya takaran pupuk saya tambah," jelasnya ketika ditemui di sawahnya.

Kabid Tanam dan Pangan Dinas Pertanian, Bambang Arnowo, belum lama ini mengungkapkan jika pupuk anorganik atau kimia dinilai berbahaya untuk kestabilan kesuburan tanah. Apalagi, jika penggunaanya dilakukan secara terus menerus. Bukan tidak mungkin kesuburan tanah menghilang.

"Para petani kita banyak sudah mempunyai ketergantungan yang tinggi dengan pupuk urea dan semacamnya, padahal secara tidak langsung pupuk tersebut justru merusak tanah," jelasnya.Selanjutnya, dia menambahkan jika unsur penting yang ada di tanah bisa hilang akibat pengaruh bahan kimia yang ada di pupuk anorganik. Seperti unsur N yang mengikat udara dalam tanah. Jika unsur itu hilang lama kelamaan tumbuhan akan sulit mendapat oksigen dari tanah.

Dalam beberapa masa tanam, tambah Bambang mungkin kondisi tanah tidak akan berubah. Namun menurutnya, jika sudah sepuluh lebih masa tanam kemungkinan hal tersebut akan terjadi..Untuk itu Bambang mengharapkan supaya para petani bisa belajar menggunakan pupuk organik. Karena, menurutnya pupuk organik lebih bersahabat dengan tanah karena berbahan dasar alami. Selanjutnya dia menjelaskan butuh tujuh kali masa tanam dengan memakai pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Selanjutnya, ciri tanah yang sudah hilang kesuburannya. Akan cepat mengeras jika terkena air. Selain itu pupuk organik ramah lingkungan, menurutnya pupuk ini murah dan mudah didapatkan.