Friday, February 27, 2009

Tahu Bahaya Pupuk Kimia, Tetap Nekad

KUDUS- Pupuk anorganik ternyata sudah dipahami petani bisa menyebabkan rusaknya kesuburan tanah. Namun, karena hasilnya lebih besar banyak para petani yang tetap memakainya. Mereka lebih memilih hasil dalam jangka pendek dari pada kelestarian tanah dalam jangka panjang.

"Namanya orang buruh, Mas, Jadi yang penting panenya bisa banyak, kalau organik memang baik untuk tanah, tapi hasilnya sedikit," jelas Latif petani asal desa Undaan Tengah Gang 11, yang mengerjakan sawah milik orang, kemarin (14/12).

Dia mengaku hampir setiap tahun menggunakan pupuk kimia tersebut. Selain karena sudah menjadi turun temurun. Dia juga mengaku sebagai penggarap sawah hanya keuntungan yang jadi prioritasnya. Pasalnya dia mengaku harus membagi hasil panennya dengan pemilik tanah.

Kesuburan tanah dengan pupuk kimia menurutnya, tidak akan bertahan lamah. Bahkan sekarang dia menjelaskan harus menambah pupuk kimianya karena tanah sudah mulai kehilangan unsur haranya. "Untuk memacu pertumbuhan ita terpakasa selalu menambah jumlah pupuknya," tambahnya.

Bahkan, latif mengaku pernah merasakan padi yang berasal dari sawah dengan pupyk organik. Untuk hasilnya dia menungkapan lebih bagus. Selain itu dia membandingkan setelah dimasak nasi dari padi itu tidak lengket dan bau meski dua atau tiga hari berada di pemanas nasi.

Sementara itu, Sukardi petani asal desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati. Alasannya menggunakan pupuk kimia karena hasil penennya lebih banyak dan sawahnya akan terlihat hijau.

Dia juga menjelaskan jika, sawahnya sudah tidak subur seperti tahun lalu. Perbedaan hasilnya memang tidak terlalu banyak. Selanjutnya, bahkan dia juga memperkirkan kondisi ini akan berlangsung terus.

"Sebelum saya tanam padi, di sini saya tanami pohon jagung, dan hasilnya sedikit menurun, kemudian saya takaran pupuk saya tambah," jelasnya ketika ditemui di sawahnya.

Kabid Tanam dan Pangan Dinas Pertanian, Bambang Arnowo, belum lama ini mengungkapkan jika pupuk anorganik atau kimia dinilai berbahaya untuk kestabilan kesuburan tanah. Apalagi, jika penggunaanya dilakukan secara terus menerus. Bukan tidak mungkin kesuburan tanah menghilang.

"Para petani kita banyak sudah mempunyai ketergantungan yang tinggi dengan pupuk urea dan semacamnya, padahal secara tidak langsung pupuk tersebut justru merusak tanah," jelasnya.Selanjutnya, dia menambahkan jika unsur penting yang ada di tanah bisa hilang akibat pengaruh bahan kimia yang ada di pupuk anorganik. Seperti unsur N yang mengikat udara dalam tanah. Jika unsur itu hilang lama kelamaan tumbuhan akan sulit mendapat oksigen dari tanah.

Dalam beberapa masa tanam, tambah Bambang mungkin kondisi tanah tidak akan berubah. Namun menurutnya, jika sudah sepuluh lebih masa tanam kemungkinan hal tersebut akan terjadi..Untuk itu Bambang mengharapkan supaya para petani bisa belajar menggunakan pupuk organik. Karena, menurutnya pupuk organik lebih bersahabat dengan tanah karena berbahan dasar alami. Selanjutnya dia menjelaskan butuh tujuh kali masa tanam dengan memakai pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Selanjutnya, ciri tanah yang sudah hilang kesuburannya. Akan cepat mengeras jika terkena air. Selain itu pupuk organik ramah lingkungan, menurutnya pupuk ini murah dan mudah didapatkan.

Thursday, February 26, 2009

BIOTEKNOLOGI MIKROBA UNTUK PERTANIAN ORGANIK

RINGKASAN

Alasan kesehatan dan kelestarian alam menjadikan pertanian organik sebagai salah satu alternatif pertanian modern. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari input bahan sintetik, baik berupa pupuk, herbisida, maupun pestisida sintetik. Namun, petani sering mengeluhkan hasil pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati.
Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut.
Teknologi Kompos Bioaktif

Salah satu masalah yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pupuk hijau atau pupuk kandang. Kedua jenis pupuk itu adalah limbah organik yang telah mengalami penghacuran sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Limbah organik seperti sisa-sisa tanaman dan kotoran binatang ternak tidak bisa langsung diberikan ke tanaman. Limbah organik harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses pengkomposan alami memakan waktu yang sangat lama, berkisar antara enam bulan hingga setahun sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman.

Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya: SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba, Stardec, dan lain-lain.
Kompos bioaktif adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. SuperDec dan OrgaDec, biodekomposer yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), dikembangkan berdasarkan filosofi tersebut. Mikroba biodekomposer unggul yang digunakan adalah Trichoderma pseudokoningii , Cytopaga sp, dan fungi pelapuk putih. Mikroba tersebut mampu mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar 2-3 minggu. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan untuk mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman.
Biofertilizer

Petani organik sangat menghindari pemakaian pupuk kimia. Untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, petani organik mengandalkan kompos sebagai sumber utama nutrisi tanaman. Sayangnya kandungan hara kompos rendah. Kompos matang kandungan haranya kurang lebih : 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K. Dengan kata lain 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl. Misalnya untuk memupuk padi yang kebutuhan haranya 200 kg Urea/ha, 75 kg SP 36/ha dan 37.5 kg KCl/ha, maka membutuhkan sebanyak 22 ton kompos/ha. Jumlah kompos yang demikian besar ini memerlukan banyak tenaga kerja dan berimplikasi pada naiknya biaya produksi.

Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan ( leguminose ). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.
Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.
Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.
Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas, Rhiphosant, Kamizae, OST dan Simbionriza.

Agen Biokontrol

Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala serius dalam budidaya pertanian organik. Jenis-jenis tanaman yang terbiasa dilindungi oleh pestisida kimia, umumnya sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit ketika dibudidayakan dengan sistim organik. Alam sebenarnya telah menyediakan mekanisme perlindungan alami. Di alam terdapat mikroba yang dapat mengendalikan organisme patogen tersebut. Organisme patogen akan merugikan tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara organisme patogen dengan mikroba pengendalinya, di mana jumlah organisme patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat menyeimbangakan populasi kedua jenis organisme ini, maka hama dan penyakit tanaman dapat dihindari.

Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain: Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago.

Aplikasi pada Pertanian Organik

Produk-produk bioteknologi mikroba hampir seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami. Produk ini dapat memenuhi kebutuhan petani organik. Kebutuhan bahan organik dan hara tanaman dapat dipenuhi dengan kompos bioaktif dan aktivator pengomposan. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat mensuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia. Serangan hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan dengan memanfaatkan biokotrol.

Petani Indonesia yang menerapkan sistem pertanian organik umumnya hanya mengandalkan kompos dan cenderung membiarkan serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan tersedianya bioteknologi berbasis mikroba, petani organik tidak perlu kawatir dengan masalah ketersediaan bahan organik, unsur hara, dan serangan hama dan penyakit tanaman.

Penulis:
Isroi, S.Si, M.SiPeneliti Mikroba Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Lembaga Riset Perkebunan Indonesia Jalan Taman Kencana No. 1 Bogor 16151 Telp. 0251 324048/327449 Fax. 0251 328516Email: ipardboo@indo.net.id ; isroi@ipard.com

Friday, February 20, 2009

Arti Pertanian Organik

Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, Pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik.

Thursday, February 19, 2009

Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Konservasi

Pemanasan global telah menyebabkan perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya tekanan lingkungan dalam bentuk iregularitas ketersediaan air karena kekeringan dan banjir; degradasi lahan oleh erosi dan pengikisan bahan organik dan mineral tanah; perubahan praktik-praktik pertanian seperti perubahan pola tanam, ancaman terhadap kesinambungan produktivitas tanaman, baik itu yang menyangkut kuantitas maupun kualitas, serta perubahan dalam diversifikasi tanaman. Hal ini diramalkan akan mengancam kelangsungan produksi pangan di dunia maupun di Indonesia dalam jangka panjang.

Para ahli telah mengajukan kerangka mitigasi terhadap emisi GRK. Untuk sektor pertanian, International Panel on Climate Change (IPCC) telah merekomendasikan beberapa langkah penting dengan menggunakan teknologi maupun praktek yang saat ini tersedia. Langkah-langkah itu antara lain: memperbaiki manajemen lahan pertanian dan ladang penggembalaan untuk meningkatkan penyimpanan karbon di tanah; restorasi lahan gambut dan lahan yang telah rusak.

Memperbaiki teknik-teknik budidaya tanaman padi, manajemen di bidang peternakan dan pemupukan untuk mereduksi emisi gas metan; serta memperbaiki teknik aplikasi pupuk nitrogen untuk mengurangi emisi gas nitrat. Menggunakan energi berbasis tanaman untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil (tambang); memperbaiki efisiensi energi.

Teknologi praktik-praktik seperti itu terangkum dalam konsep Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture), yang pada tingkat implementasinya terjelma dalam praktik pertanian konservasi (Consevation Agriculture)

Pertanian konservasi yang memperkenalkan olah tanah konsevasi, dalam bentuk olah tanah minimum, tanpa olah tanah dan pemanfaatan mulsa. Hal ini ternyata telah diterapkan pada kurang lebih 100 juta hektar lahan pertanian di dunia, terutama di Amerika Selatan, Amerika Utara serta beberapa negara Afrika. Namun laju adopsi olah tanah konservasi akan menggantikan teknik olah tanah konvensional yaitu olah tanah sempurna. Olah tanah sempurna yang biasanya dilakukan secara mekanis dengan cangkul ataupun traktor, cenderung merusak struktur tanah, sebagai sumber emisi gas karbon atau pun gas metan.

sumber: www.sinarharapan.co.id

Wednesday, February 11, 2009

Pertanian Berkelanjutan Untuk Masa Depan

Definisi komperhensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komoponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang direpresantasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.

Siapaun yang bergerak di bidang pertanian seharusnya berbagi kepedulian yang lebih luas pada masyarakat dalam mendukung lingkungan ya bersih dan nyaman. Beberapa tahun terakhir,telah terjadi paradigma yang mengangkat masyarakat pertanian dari kondisi yang mengharuskan produktivitas lebih tinggi menuju suatu kondisi masyarakat kondisi masyarakat yang peduli pada keberlanjutan. Hal ini dirasakan sebagai suatu kesalahan bahwa produktivitas yang tinggi dari kegiatan pertanian konvensional telah menimbulkan biaya kerusakan yang cukup signifikan terhadap lingkungan alam dan disrupsi masalah sosial.

Dalam usaha mengalihkan konsekuensi-konsekuensi negatif pertanian konvensional, beberapa format sistem pertanian berkelanjutan yang berbeda telah direkomendasikan sebagai alternatif-alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aan secara lingkungan. Kepentinga dalam sistem pertanian alternatif ini sering dimotivasi dengan dengan suatu keinginan untuk memperbaiki tingkat kesehatan lingkungan dan menurunkan tingkat kerusakan lingkugan dan sebuah komitmen terhadap manajemen sumberdaya alam yang berkeadilan. Tetapi kriteria yang paling penting untuk kebanyakan petani dalam mempertimbangkan suatu perubahan usaha tani adalh keinginan memperoleh hasil yang layak secara ekonomi. Adopsi terhadap metode pertanian alternatif yang lebih lebar ini membuktikan bahwa metode tersebut sedikitnya sama kualitasnya dalam memperoleh keuntungan dengan signifikan, seperti sebagai usaha menjaga penurunan kualitas sumberdaya air dan tanah secara cepat.

Riset dan pendidikan bergerak terbatas diantara para peneliti atau mahasiswa. Sebagaimana seorang mahasiswa menjadi lebih baik diberikan pendidikan mengenai pengetahuan praktis pertanian berkelanjutan, karena lebih memiliki minat dan dana akan ditingkatkan untuk mendukung riset selanjutnya. Jaminan peneliti dan ketersediaan dana penelitian ini akan lebih memberikan harapan untuk meningkatkan minat pada pendidikan yang memadu riset selanjutnya secara umum. Pooling pendapat yang dilakukan disejumlah fakultas seluruh Amerika menunjukkan ketertarikan pada pertanian berkelanjutan. Kebanyakan mereka mempertanyakan masalh-masalah pertanian berkelanjutan sebagai sebuah pemikiran yang tidak dapat diadopsi dalam program agroekologi. Mereka memberikan komentar bahwa penuruan dampak lingkungan akibat usaha pertanian berkelanjutan sebagai sebuah keuntungan yang besar dari meninggalkan usaha pertanian konvensional. Lebih banyak riset yang dilakukan pada pertanian berkelanjutan ini, program-program pendidikan yang lebih baik akan dapat dilaksanakan di wilayah ini.

Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan dilaksanakan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap mereka yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional.

Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-funsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab insentif-insentif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.

sumber : www.lablink.or.id

Porspek Pertanian Organik di Indonesia

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan "Back to Nature" telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida, kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian Organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam , potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertainan organik dunia meningkat 20% pertahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian orrganik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian Organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesbilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produksi pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti, Jepang, Taiwan, dan KOrea.

Potensi dasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain:
1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik
2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang
benar-benar steril dari bahan agrokimia
3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta ha, 3,7 ha, 1,3 ha. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia damn Afrika masih relatif rendah yaitu 0,09 juta ha dan 0,06 juta ha. Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan (IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002).

Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain: 1) masih banyak sumber daya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesa haru ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu, komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah, perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar keudua setelah Brasil, tetapi di pasa internasional kopi Indonesia tidak memiliki merk dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bagi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik harus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termauk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimianya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian yang tidak sertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipennuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan. Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasa internasional.

Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik, antara lain:
1. Tanaman Pangan Padi
2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah : nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
3. Perkebunan kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi
4. Rempah dan obat jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
5. Peternakan: susu, telur dan daging

sumber : www.litbang.deptan.go.id

Tuesday, February 10, 2009

Picture Your Heart's Health With EKGs

by : Damian Sofsian (www.e-healtharticles.com)

Each times yaour heart beats, the contractions and relaxations of the heart muscle emit electrical current. An electrodiogram (EKG) is the medical recording of the electric impulses from the heart. ELectrodes that send impulses to the EKG machine are attached to the patients skin at various point on the body. Those racorded currents are displayed on a computer monitor and can be printed out on special graph paper. Your hearts electrical currents are recorded on the graph paper as an EKG. Qualified medical staff interpret the graphed result determine any irregularities.

Most EKGs are performed in critical care facility, telemetry or any place that a particular patient needs to be monitored. EKGs can help your doctor determine that status of your heart health. By graphing the electrical impulses of the heart, doctors and other trained medical staff are able to see the presence of any abnormalities. The EKG recording often reveals the scars of the past heart attacks or other heart problems, acombination of family history and additional examinations may give your doctor a good idea of what to expect.

Individuals experienceing chest pain, shortness of breath, dizzines or heart palpitations will likely be reffered for an EKG be their doctor. An EKG is a rapid and safe way to determine if a heart attack is occuring. Those reporting these types of symptoms will likely be reffered to the nearest Emergency Room for further evaliation. If your doctor does not think your symproms indicate a life-threatening situation, you may be asked to make an appoiontment with an EKG specialist for further obseravation.

An EKG is very simple and painless procedure. The patients are instructed to lie face up on an examination table while electrodes are strategically paced at various points on their body. The electrodes ara attached to cables and the cables are attached to the EKG machine. The electrodes send electronic impulses to the machine and result in printed graph, wich is a picture of your heart function. The procedure usually takes 15 to 20 minute but may require a longger visit if the technician needs additional testing data. A stress test is a normal EKG procedure that reqiures the patient perform moderate exercise while recording hearts rhythms.

Monday, February 9, 2009

Dry Eyes

by : Ricards Romando (www.e-healtharticles.com)

The eye is a vital organ that converts the reflected light form an object into neuron signals and feed them to the brain for processing and identification of the object.

The eyes can suffer various conditions such as myopia, hyperopia, conjungtivitis, cataract, astigmatism, glaucoma, sty, infection, and tumors. The eyelids blink several times a minute to clean the eyes and keep them moist, using the secretion tears from the lacrimal gland. The lids also have a fast reflex action to protect the eyes.

Tears serve an important function in the health of eyes. They wash dust, chemicals, germs and other foreign bodies. They control the microorganism in the eyes with their enzymes. In a condition called "Dry Eyes", the tear gland does not secrete enough tears, or the quality of the liquid is poor and evaporates very fast. Normally the tears from three layers over the eye. The lacrimal glands produce water, and the small glands produce oil and mucus. The bottom mucus layer covers the cornea, and over it is the water layer with some nutrients. The outer oil layer prevents the water from evaporating.

Dry eyes are one of the old age problems, where not enough oil is produced. Some medications cause this problem. Hot, dry and windy weather can also lead this problem. Menopause, thyroid conditions and vitamin A deficiency can also cause it. The person with dry eyes has itching, burning, irritation, blurred vision, discomfort and redness af the eyes. Surprisingly, there may be more tears secreted.

Treatment for dry eyes is planned only after finding the root cause of the poblem. For old people with no spesific problem, artificial tears two to three times a day and an ointment during the night can take care of the problem. The passage from the eyes to the nose, wich normally drains the tears, can be plugged to keep enough tears in the eyes.

Dry eyes, if left unterated, can cause more problems for the eys. Drinking plenty of water, taking teh eyes off of paperwork or computer periodically, and blinking, the eyelids deliberately are some of the ways we can assist our eyes.


Friday, February 6, 2009

High Fever, Severe Flu Or Surgery Causes Hair Loss

A lot of people who recently suffered high fever, severe flu or those who underwent surgery experiences hair loss three to four month after the illnes or thesurgery. According to the medical studies, this type of hair loss, wich at times may lead to baldness, is often temporary and would soon correct itself without any medical interventions. The temporary hair loss occurs after cases of high fever and severe flu since growth activities of the body, including the hair, slow down during illnes.

As the body slows down due to illnes, the hair shifts rapidly from the growth stage to the resting phase otherwise known as the telogen efffluvium, where growth become minimal and aging of the hair is hasten. Note that the strands of our hair have their own individual lifespan af about 2 to 6 years and thereafter, the mature hair would enter into the telogen phase where it ceases to grow and will then be shed off and replaced by new ones. Under normal circumstances, only 10% of their hair in your head matures and is shed off at one time. In the case af ailing people, the growth stage is interupted and the hair prematurely enters inte the telogen phase. The premature aging of hair would disrupt the cycle thereby causing excessive hair loss at one time.

Under normal circumstances, hair loss is compenstated by the new growth, thus no baldness would result. In sick people, growth activities of the body are inhibited. As a result, no hair will replace the strands shed off from the scalp of the sick person. However, this, as the person recovers from the illnes, the natural growth of hair resumes and the patient would eventually recover a head full of hair..

Sunday, February 1, 2009

Untuk semua saudaraku

Saudara-saudaraku yang tercinta, manfaatkan blog ini dengan sebaik-baiknya untuk mencari informasi keadaan keluarga besar kita...

Insya Alloh blog ini akan selalu tak update biar semua sedulur-sedulur tahu keaadan keluarga kita..

Alhamdulillah

Alhamdulillah, akhirnya blog ini sudah jadi, walaupun masih banyak kekurangan tetapi, nantinya akan menjadi lebih baik lagi